Kala Bulan menyapa Bintang

Photobucket - Video and Image Hosting
Langit sudah milik sang surya pagi ini. Bukan waktuku lagi menyinari bumi. Aku pun segera kembali ke peraduanku. Menarik selimut dan segera kurebahkan badanku. Kupejamkan mata, berusaha untuk mengistirahatkan jiwa dan raga. Semenit... sepuluh menit.. kenapa sulit... sulit sekali. Mata ini terpejam, tapi tetap saja kerja otak ini tak kunjung berhenti. Terbayang-terbayang semua pembincanganku dengan bintang utara malam tadi. Ya, semalam saat aku memutuskan untuk berotasi kembali, kudapati dirinya sedang termenung sendiri, tak nampak sudut senyumnya tersungging manis seperti biasa. Memoriku lantas bekerja, berusaha mengingat-ingat kapan aku terakhir kali berjumpa dengan bintang utara itu. Ah, rasanya sudah lama sekali. Galaksi yang sama tetap tidak memudahkan diriku dan dirinya untuk bersua. Lalu kuberanikan diri untuk menyapanya "Hai bintang utara... Lupakah kau bahwa hari sudah malam. Mana kerlipan senyummu itu? Aku tidak melihatnya sejak senja tadi bergulir.."
Bintang utara itu lalu segera menjawab "Setelah sekian lama kumenunggu wahai senyum rembulan. Akhirnya kau tampakkan indahnya pancaran sinarmu. 'Tuk temani bintangku yang luluh oleh jauhnya biasmu."
Ah bintang utara, seandainya kau tau apa yang sedang terjadi dalam harmoni hidupku. Harmoni yang nada-nadanya sedang berirama pelan, dan sedang kutata kembali agar bisa bermelodi indah. Aku lalu berujar jujur "Duhai bintang, Aku akui aku bersembunyi. Tapi bukan untuk pergi. Aku masih mengintipmu dari jendela langit saat sang surya pergi. Untuk sekedar mengingatkan bahwa kita masih dalam satu bias cahaya yang sama."
"Itulah mengapa bias sinar itu kian pudar... Janganlah kau sembunyikan dirimu wahai bulanku. Terangilah alam bumi ini. Biarkan satu dalam jagat raya yang indah. Tak apalah..."
Aku tersenyum mendengar kata2nya... "Ah bintang, aku malu jika harus menunjukkan senyumku sendirian pada bumi. Tidak lengkap rasanya, karena sering kudapati kau tak ada ditempatmu. Padahal rindu nian aku akan hangatmu."
"Begitupun seisi bumiku, sangat merindukanmu. Untuk temani dalam segala keheninganku. Dapatkah kudapati kembali? Ah tak mungkin rasanya..."
Dadaku bergetar saat saat mendengar kata rindu darinya. Sungguh! Aku senang mendengarnya. Kata itu baru saja terucapkan, ternyata masih bisa kudapati kalau kita sedang bersama berpijak dalam ruang angkasa yang bernama rindu. Tapi mengapa... sayang, ragu, cemas, semua itu melebur ada??
"Tidakkah kau rasakan wahai bintang, Aku masih punya asa, bergejolak melawan dingin dan sepinya malam. Kau tentu tau hanya pemilik alam dan langit yang mampu menghendaki. Aku hanya bisa disini."
"Tidak...! Ia menciptakan kita untuk bersatu, untuk hiasi alam jagad raya ini. Maka hiasilah... Agar menjadikan kita lebih mengabdi padaNya. Aku tak punya kuasa menandingiNya."
Aku sejenak berpikir... memang inginku seperti itu, tapi... leburan rasa itu memang nyata ada. Ah, aku bingung...
"Hmm... Begitukah kodrat bintang dan bulan? Lalu mengapa aku merasa kau jauh, bukankah kita harus bersinar bersama. Kau tidak lupakan, biasku adalah biasmu. Kerlip senyummu adalah nyawaku." kataku lagi.
"Kenapa aku tak sebegitu yakin yah? Akankah kita dapat menghiasi ini semua bersama?? Tanyakan...! Kau hilang..!" jawabmu penuh ragu.
"Aku harus bertanya pada siapa saat ragumu datang?? Hatimu milikmu. Rasamu ya rasamu... Kau ini bintang, tentu kau tau dari arah mana kau bersinar. Utara? Selatan? Atau dari barat hingga timur??"
"Tiada ragu! Pupus sudah! Tiada lagi yang dapat kusinari! Takkan ada arah itu lagi!
"Ah biasku pun tak kau rasa. Jalan untukmu pun tak niat kautapaki. Selamat malam bintang, aku mau bersembunyi lagi. Sungguh saat ini aku tak kuasa lagi berotasi..." ujarku menutup perbincanganku dengannya.
Kau pun membalas, dengan murka kurasa "Bukan itu. Ada satu sinar yang lebih indah.. yang belum pernah kita temukan. Bahkan kau tak sadari jalan yang sedang kutapaki. Apalagi niatku... Sudah kuduga! Selamat malam juga, sampai bersinar lagi..."
+++++
ps : Bintang.. nama yang selalu kusebut saat malam hingga menjelang fajar... percayalah, kini aku baru paham benar niatmu. Hmm, Masih mau 'kan dirimu sekedar berkelip senyum untukku?

posted by .n.a.n.a. @ Friday, July 14, 2006,

8 Comments:

At Friday, July 14, 2006, Blogger za said...

akh....
bintang...bintang...
kenapa kau tak sadar
bahwa bulan enggan bersinar
tanpa ada kau!

atau kau sudah tau?
tapi kau malas untuk menemaninya
atau mungkin.....
kau tak rela bintang lain juga menemaninya?


*halah za!!! sok berpuisi*

huehue...maap nana....^_^v

btw, ktemu ma bintangku juga ga Na smalem????

 
At Friday, July 14, 2006, Blogger Spedaman said...

huaaa udah komen tp ilang:((
klo ga salah gw komennya kyk gini Na:

Malam,,
Malam hari yang panjang,,,
Bintangku datang dan berlalu,,
begitu pula dengan bintang-bintang lain...

Akankah ada bintang yang abadi,,?
yang menemaniku di malam yang panjang dan gelap ini?

Siapakah bintang itu?
Mungkinkah itu kamu?
Hanya Dia yang tahu...


kayaknya sih masih mantepan yg pertama deh,, :p
Wonderwoman harus kuat ok!!

 
At Friday, July 14, 2006, Anonymous lucy said...

Dia kan tetap menjadi bintang
Dengan kerlip dan senyuman
Petik saja satu..
Simpan di teras langit
Dan jadikan teman

 
At Saturday, July 15, 2006, Anonymous Anonymous said...

tidak lucy !! jangan taruh bintangku di teras langit..bintangku hanya bintang kecil yang hanya bisa ada di hati..!!

Bulan dan bintang selalu diciptakan bersama untuk menghiasi alam jagat raya ini kepadaNYA lah mereka mengabdikan itu semua..
:) (*)

 
At Saturday, July 15, 2006, Blogger Jay said...

hiaaa... ternyata sama.. gw juga posting ada bintang, bumi, matahari dan kawan2.. gw ga nyontek lohh na heheee..

Bulan, tetap lah bersinar, pasti akan ada bintang yang bersinar pada bias yang satu.. hadir di langit-langit anyaman rindu, biaskan cinta pada bumi yang sama :) *sok tauu, truss.. kaburrr*

 
At Sunday, July 16, 2006, Anonymous firman said...

aduh uda lama nih,ga denger kata bulan...

 
At Monday, July 17, 2006, Blogger nYam said...

nana sedang jatuh cinta?

*terbawa romantis*

 
At Tuesday, April 24, 2007, Anonymous Anonymous said...

That's a great story. Waiting for more. Sex mpeg's Aladin en yasmin ringtones tits ass cunt spank enema

 

Post a Comment

<< Home